"JOM! KITA DAULATKAN AL QURAN DAN SUNNAH"

" Sembahyang itu tiang agama. Barang siapa mendirikannya maka sesungguhnya ia telah mendirikan agama dan barangsiapa meninggalkannya maka sesungguhnya ia telah merobohkan agama." (Hadis riwayat Baihaki dari Ibnu Umar)

"Ya Allah Sekiranya Hari Ini Merupakan Hari Terakhir Kami, Kau Akhirilah Kalimah Kami Dengan Kalimah لآ اِلَهَ اِلّا اللهُ

Sesungguhnya aku menasihati kamu bukan bererti akulah yang terbaik di kalangan kamu. Bukan juga paling soleh di kalangan kamu. Kerana aku juga pernah melampaui batas untuk diri sendiri. Seandainya, seseorang itu hanya dapat menyampaikan dakwah apabila dia sempurna. Nescaya tidak akan ada pendakwah. Maka akan jadi sikitlah orang yang memberi peringatan.

-Imam Hassan Basri-

ILMU ITU UMPAMA BARANG KESAYANGAN KITA YANG HILANG, IANYA PERLU DICARI KERANA IA ADALAH HAK KITA
Imam Al Ghazali

Wednesday, 5 September 2012

Hubungan seks dari perspektif Islam

Oleh : Abu Umar Baasyir
               Sebagai sebahagian dari fitrah kemanusiaan, Islam tidak pernah menhalang hasrat seksual. Islam memberikan panduan yang lengkap agar seks boleh dinikmati oleh seorang muslim tanpa harus kehilangan rentak ibadahnya.

      Bulan Syawal, bagi umat Islam, boleh dianggap sebagai musim perkahwinan. Anggapan ini tentu bukan tanpa alasan. Kalangan santri dan muhibbin biasanya memang memilih bulan tersebut sebagai waktu untuk melangsungkan aqad nikah.  Kebiasaan tersebut tidak lepas dari anjuran para ulama yang bersumber dari ungkapan Sayyidatina Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq yang dinikahi Baginda Nabi pada bulan Syawal. Ia berkata :,


“Sesungguhnya pernikahan di bulan Syawal itu penuh keberkahan dan mengandung banyak kebaikan.”

 
       Namun, untuk mengapai kebahagiaan sejati dalam rumah tangga tentu saja tidak cukup dengan menikah di bulan Syawal. Ada banyak hal yang perlu dipelajari dan diamalkan secara saksama oleh pasangan suami isteri agar meraih ketenteraman (sakinah), cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah), baik dari segi zahir mahupun batin. Salah satunya –dan yang paling penting– adalah persoalan hubungan intim atau dalam bahasa fiqih disebut sebagai jima’.(hubungan seks)

 
               Sebagai salah tujuan dilaksanakannya nikah, hubungan intim –menurut Islam– termasuk salah satu ibadah yang sangat dianjurkan agama dan mengandungi nilai pahala yang sangat besar. Kerana jima’ dalam ikatan nikah adalah jalan halal yang disediakan oleh Allah swt  untuk melampiaskan hasrat biologis insani dan menyambung keturunan Bani Adam. Selain itu jima’ yang halal juga merupakan ibadah yang berpahala besar. Rasulullah SAW bersabda, 


Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli isteri kita?.” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan mendapat pahala.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah)
 
              Kerana bertujuan mulia dan bernilai ibadah itu lah setiap hubungan seks dalam rumah tangga harus bertujuan dan dilakukan secara Islami, yakni sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan sunah Rasulullah SAW.

 
            Hubungan intim, menurut Ibnu Qayyim Al-Jauzi dalam Ath-Thibbun Nabawi (Pengubatan ala Nabi), sesuai dengan petunjuk Rasulullah memiliki tiga tujuan:

i)  memelihara keturunan dan keberlangsungan umat manusia, 
ii) mengeluarkan cairan yang bila mendekam di dalam tubuh akan berbahaya,
iii)  dan meraih kenikmatan yang dianugerahkan Allah.
 
          Ulama salaf mengajarkan, “Seseorang hendaknya menjaga tiga hal pada dirinya: 

i) Jangan sampai tidak berjalan kaki, agar jika suatu saat harus melakukannya tidak akan mengalami kesulitan; 
ii)Jangan sampai tidak makan, agar usus tidak menyempit;
iii) dan jangan sampai meninggalkan hubungan seks, karena air sumur saja bila tidak digunakan akan kering sendiri.

Wajahnya Muram


            Muhammad bin Zakariya menambahkan, “Barangsiapa yang tidak bersetubuh dalam waktu lama, kekuatan organ tubuhnya akan melemah, sarafnya akan menegang dan pembuluh darahnya akan tersumbat. Saya juga melihat orang yang sengaja tidak melakukan jima’ dengan niat membujang, tubuhnya menjadi dingin dan wajahnya muram.”  Sedangkan di antara manfaat bersetubuh dalam pernikahan, menurut Ibnu Qayyim, adalah terjaganya pandangan mata dan kesucian diri serta hati dari perbuatan haram. Jima’ juga bermanfaat terhadap kesihatan psikis pelakunya, melalui kenikmatan tiada tara yang dihasilkannya. Puncak kenikmatan bersetubuh tersebut dinamakan orgasme atau faragh (klimaks). Meski tidak semua hubungan seks pasti berujung faragh, tetapi upaya optimal pencapaian faragh yang adil hukumnya wajib. Yang dimaksud faragj yang adil adalah orgasme yang bisa dirasakan oleh kedua belah pihak, yakni suami dan istri.

 
Mengapa wajib?


               Karena faragh (klimaks) bersama merupakan salah satu unsur penting dalam mencapai tujuan pernikahan yakni sakinah, mawaddah dan rahmah. Ketidakpuasan salah satu pihak dalam jima’, jika dibiarkan berlarut-larut, dikuatiri akan mendatangkan mudarat yang lebih besar, yakni perzinaan. Maka, sesuai dengan prinsip dasar Islam, la dharara wa la dhirar (tidak berbahaya dan membahayakan), segala upaya mencegah hal-hal yang membahayakan pernikahan yang sah hukumnya juga wajib.  Namun, kepuasan yang wajib diupayakan dalam jima’ adalah kepuasan yang berada dalam batas kewajaran manusia, adat dan agama. Tidak dibenarkan menggunakan dalih meraih kepuasan untuk melakukan amalan-amalan seks yang menyimpang, seperti sodomi (liwat) yang secara 'medical ' nya telah terbukti berbahaya. Atau penggunaan kekerasaan dalam aktiviti seks (mashokisme), baik secara fizikal maupun mental, yang kebelakangan ini kerap terjadi.
 
        Maka, sesuai dengan kaedah usul fiqih “ma la yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajibun” (sesuatu yang menjadi syarat kesempurnaan perkara wajib, hukumnya juga wajib), mengenal dan mempelajari unsur-unsur yang boleh mengantarkan jima’ kepada faragh juga hukumnya wajib.Bagi kaum lelaki, tanda tercapainya faragh sangat jelas yakni ketika jima’ mereka akan  mencapai fasa ejakulasi atau keluar mani. Namun tidak demikian halnya dengan kaum hawa’ yang kebanyakan “lambat panas”, atau –bahkan ada yang tidak mudah panas. Untuk itulah diperlukan berbagai strategi untuk mempercepatnya.

Dan, salah satu unsur terpenting dari strategi pencapaian faragh adalah pendahuluan atau pemanasan yang dalam bahasa asing disebut sebagai "foreplay" (isti’adah). Pemanasan yang cukup dan akurat, menurut para pakar seksologi, akan mempercepat wanita mencapai faragh.
Karena dianggap amat penting, pemanasan sebelum berjima’ juga diperintahkan Rasulullah SAW Beliau bersabda,

 

“Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu rayu.” (HR. At-Tirmidzi).

Ciuman dalam hadits diatas tentu saja dalam makna yang sebenarnya. Bahkan, Rasulullah SAW, diceritakan dalam Sunan Abu Dawud, mencium bibir Aisyah dan mengulum lidahnya. Dua hadits tersebut sekaligus mendudukan ciuman antarA suami istri sebagai sebuah kesunahan sebelum berjima’.


Ketika Jabir menikahi seorang janda, Rasulullah bertanya kepadanya, 


“Mengapa engkau tidak menikahi seorang gadis sehingga kalian bisa saling bercanda ria? …yang dapat saling mengigit bibir denganmu.” HR. Bukhari (nomor 5079) dan Muslim (II:1087).

Bau Mulut

 
Oleh itu, pasangan suami isteri hendaklah sangat memperhatikan segala unsur yang akan menyempurnakan fasa ciuman. Baik dengan menguasai teknik dan trik berciuman yang baik, maupun kebersihan dan kesihatan organ tubuh yang akan dipakai semasa berciuman. Kerana biasa terjadi, bukannya menaikkan suhu jima’, malah bau mulut yang tidak segar akan menurunkan semangat dan hasrat pasangan. Sedangkan rayuan yang dimaksud di atas adalah semua ucapan yang dapat memikat pasangan, menambah kemesraan dan merangsang ghairah berjima’. Dalam istilah fiqih kalimat-kalimat rayuan yang merangsang disebut rafats, yang tentu saja haram diucapkan kepada selain isterinya.


        Selain ciuman dan rayuan, unsur penting lain dalam pemanasan adalah sentuhan mesra. Bagi pasangan suami isteri, seluruh bahagian tubuh adalah objek yang halal untuk disentuh, termasuk kemaluan. Terlebih jika dimaksudkan sebagai penyemangat jima’. Demikian Ibnu Taymiyyah berpendapat.
Syaikh Nashirudin Al-Albani, mengutip perkataan Ibnu Urwah Al-Hanbali dalam kitabnya yang masih berbentuk manuskrip, Al-Kawakbu Ad-Durari, 

 
Diperbolehkan bagi suami istri untuk melihat dan meraba seluruh lekuk tubuh pasangannya, termasuk kemaluan. Karena kemaluan merupakan bahagian tubuh yang boleh dinikmati dalam bercumbu, tentu boleh pula dilihat dan diraba. Diambil dari pandangan Imam Malik dan ulama lainnya.”

 
            Berkat kebesaran Allah, setiap bahagian tubuh manusia memiliki kepekaan dan rasa yang berbeza saat ia disentuh atau dipandangi. Maka, untuk menambah kualiti jima’, suami isteri diperbolehkan pula menanggalkan seluruh pakaiannya. Dari Aisyah RA, ia menceritakan, “Aku pernah mandi bersama Rasulullah dalam satu bejana…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Untuk mendapatkan hasil sentuhan yang optimal, seeloknya suami isteri mengetahui dengan baik titik-titik yang mudah membangkitkan ghairah pasangan masing-masing. Maka diperlukan satu bentuk komunikasi terbuka dan santai antara pasangan suami isteri, untuk menemukan titik-titik tersebut, agar menghasilkan kesan yang maksima  ketika berjima’.

 
Diperbolehkan bagi pasangan suami isteri yang tengah berjima’ untuk mendesah(mengerang). Kerana desahan adalah bahagian dari meningkatkan keghairahan. Imam As-Suyuthi meriwayatkan, ada seorang qadhi yang menggauli isterinya. Tiba-tiba sang isteri meliuk dan mendesah. Sang qadhi pun menegurnya. Namun pada keesokan harinya si qadhi mendatangi isterinya lagi lalu ia berkata, “Lakukan seperti yang kemarin.”
Satu hal lagi yang menambah kenikmatan dalam hubungan intim suami isteri, yaitu posisi bersetubuh. Kebetulan Islam sendiri memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada umatnya untuk mencuba berbagai variasi posisi dalam berhubungan seks. Satu-satunya ketentuan yang diatur syariat hanyalah, semua posisi seks itu tetap dilakukan pada satu jalan, yaitu faraj. Bukan yang lainnya.

 
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
Isteri-isterimu adalah tempat bercocok tanammu, datangilah ia dari arah manapun yang kalian kehendaki.” QS. Al-Baqarah (2:223).

 
Posisi Ijba’

 
Menurut ahli tafsir, ayat ini turun sehubungan dengan kejadian di Madinah. Suatu ketika beberapa wanita Madinah yang menikah dengan kaum muhajirin mengadu kepada Rasulullah Saw, kerana suami-suami mereka ingin melakukan hubungan seks dalam posisi ijba’ atau tajbiyah. Ijba adalah posisi seks dimana lelaki mendatangi faraj perempuan dari arah belakang(doggy style). Yang menjadi persoalan, para wanita Madinah itu pernah mendengar perempuan-perempuan Yahudi mengatakan, barangsiapa yang berjima’ dengan cara ijba’ maka anaknya kelak akan bermata juling. Lalu turunlah ayat tersebut. Terkait dengan ayat 233 Surah Al-Baqarah itu Imam Nawawi menjelaskan, “Ayat tersebut menunjukan diperbolehkannya menyetubuhi wanita dari depan atau belakang, dengan cara menindih atau bertelungkup. Adapun menyetubuhi melalui dubur tidak diperbolehkan, kerana itu bukan tempat untuk bercucuk tanam.” Bercucuk tanam yang dimaksud adalah berketurunan.
Muhammad Syamsul Haqqil Azhim Abadi dalam ‘Aunul Ma’bud menambahkan, “Kata ladang (hartsun) yang disebut dalam Al-Quran menunjukkan, wanita boleh digauli dengan cara apapun : samada berbaring, berdiri atau duduk,menghadap atau membelakangi..”
Demikianlah, Islam, sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, lagi-lagi terbukti memiliki ajaran yang sangat lengkap dan saksama dalam membimbing umatnya mengarungi samudera kehidupan. Semua sisi dan potensi kehidupan dikupas tuntas serta diberi tuntunan yang detail, agar umatnya bisa tetap bersyariat seraya menjalani fitrah kemanusiannya.

Sumber : Sutra Ungu, Panduan Berhubungan Intim Dalam Perspektif Islam, karya Abu Umar Baasyir
Di upload oleh: http://wahonot.wordpress.com



KHASIAT MEMELUK ISTERI KITA DAN PELUKAN SUAMI UNTUK ISTERI


Seorang suami yang memeluk isterinya untuk sekurang-kurangnya 10 SAAT SETIAP PAGI akan panjang umurnya LIMA TAHUN.

Fakta ini berdasarkan kajian oleh seorang pakar di Jerman mengenai hubungan antara sentuhan dan tahap kesihatan.

“Seseorang itu boleh panjang umur jika memeluk isterinya setiap hari kerana pelukan dan sentuhan boleh menyebabkan tubuh manusia mengeluarkan pelbagai hormon termasuk ENDORFIN yang baik untuk kesihatan tubuh"

Bagaimanapun, sebagai seorang Islam kita tidak harus lupa ajal dan maut terletak di tangan Allah.....

Hormon endorfin adalah sejenis bahan kimia semula jadi yang bertindak sebagai penahan sakit dan mengurangkan keresahan.

Jelasnya, selain mempunyai kesan positif dari segi saintifik dan kesihatan sentuhan, pelukan dan gurau senda antara suami dan isteri juga merupakan sunah Rasulullah S.A.W.

Terdapat kajian di Amerika Syarikat (AS) juga mendapati pelukan suami dapat mengurangkan tahap kolesterol dan meningkatkan kesihatan isteri.

“Oleh itu suami yang inginkan isterinya menurunkan berat badan digalakkan peluk isterinya lebih kerap,”

Hubungan seks dalam penuh rasa kasih sayang juga dapat membantu pasangan untuk awet muda dan berketerampilan lebih menarik.

“Wanita yang mempunyai kehidupan seks yang baik dan bahagia akan lebih cenderung untuk menghiasi diri”

Rajin2lah peluk isteri anda sekelian.... :)

WaLLaHu A'LaM
sumber : Ustaz Nasir



                Lelaki yang melakukan hubungan seks sekurang-kurangnya dua kali seminggu mampu mengurangkan hingga separuh terhadap kemungkinan diserang sakit jantung.



Kaji selidik terhadap 1,000 lelaki dilaksanakan Institut Penyelidikan New England di Massachusetts menunjukkan risiko menghidap sakit jantung mereka yang melakukan seks dua kali seminggu kurang 45 peratus berbanding lelaki yang melakukannya sekali atau kurang setiap bulan.




Kaji selidik itu bagaimanapun tidak mengkaji sama ada ia turut memberi kebaikan kepada wanita.  Kajian Penuaan Lelaki itu bermula 1987 dan membabitkan responden berusia antara 40 hingga 70 tahun.  Setiap responden akan disoal siasat pada waktu tertentu dalam tempoh 16 tahun untuk mengetahui kadar melakukan seks dan pemeriksaan dilakukan untuk mengenal pasti sama ada mereka menghidap penyakit jantung atau sebaliknya.



Penyelidik turut mengambil kira faktor lain, termasuk usia, berat badan, tekanan darah dan kadar kolesterol.




            Selain hasil utama yang disiar di Jurnal Kardiologi Amerika, kaji selidik turut mendapati seks turut memberi kesan positif terhadap fizikal dan juga emosi individu.



Lelaki yang kerap melakukan seks lebih sihat kerana ia meningkatkan kesihatan kardiovaskular tapi selain itu lelaki ini akan lebih mesra dengan pasangannya sekali gus meningkatkan kesihatannya kerana beliau tidak menghadapi tekanan perasaan.




              Sebelum ini, kaji selidik Insitut Barah Nasional AS menunjukkan mereka yang mencapai puncak ketika melakukan seks kurang risiko menghidap barah prostat.



Manakala penyelidik di Universiti Wilkes, Pennsylvania mendakwa hubungan seks sekali atau dua kali pada musim sejuk didakwa mengurangkan kebarangkalian menghidap selesema atau demam.

Menurut kajian, aktiviti seks meningkatkan penghasilan immunoglobulin A atau IGA yang bergabung dengan virus yang menceroboh tubuh dan kemudian mengaktifkan sistem ketahanan badan

No comments:

Post a Comment